Mungkin istilah (tunanetra) tidak terlalu asing bagi sebagian besar masyarakat. Kita mungkin sering mendengar orang-orang di sekitar kita mengucapkan istilah “tunanetra” kepada orang-orang yang mengalami keterbatasan pengelihatan. Atau mungkin kita sering melihat orang-orang tersebut berada di sekitar kita dan menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa.

Tunanetra adalah sebuah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang memiliki gangguan atau hambatan dalam indera pengelihatannya. Secara umum tunanetra terbagi menjadi dua bagian. Yaitu tunanetra total atau tidak dapat melihat sama sekali (totally blind) dan yang masih memiliki sedikit daya pengelihatan (low vision).

Istilah (tunanetra) sering  digunakan oleh masyarakat umum atau kajian-kajian yang dilakukan oleh lembaga pendidikan formal atau organisasi sosial masyarakat, menggantikan istilah sebelumnya yang disematkan yaitu “orang buta”. Istilah (tunanetra) terdengar lebih menghargai dan menjaga perasaan orang-orang yang memiliki hambatan pengelihatan daripada istilah sebelumnya. Bahkan saat ini muncul gagasan dan upaya untuk membuat istilah baru yang mengacu pada penghargaan dan persamaan hak bagi tunanetra yaitu “difabel” (different ability)  atau “difabel netra”.

Terlepas dari banyaknya ragam istilah untuk menyebut dan mendefinisikan orang-orang yang mengalami hambatan pengelihatan, kita perlu mengetahui lebih dalam mengenai segala sesuatu yang dialami dan dihadapi oleh orang-orang dengan hambatan pengelihatan tersebut. Baik tunanetra total atau low vision memiliki hambatan yang hampir sama, yaitu tidak berfungsinya daya pengelihatan mereka yang seharusnya menjadi salah satu indera terpenting bagi kehidupan manusia.

Terdapat beberapa faktor penyebab ketunanetraan pada manusia.
Secara umum terbagi menjadi dua bagian besar.
Yaitu Pre-natal dan Post-natal.

Pre-natal

Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal Sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan

Post-natal

Faktor penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir, antara lain :

  • Kerusakan Pada Mata Atau Saraf Mata Pada Waktu Persalinan Hamil Ibu Menderita Penyakit Gonorrhoe
  • Penyakit Mata Lain Yang Menyebabkan Ketunanetraan, Seperti Trachoma
  • Akibat Kecelakaan Saat Usia Dewasa

Seseorang dapat menjadi tunanetra dengan rentang waktu yang beragam. Seseorang dapat mengalami ketunanetraan sebelum atau sejak lahir, setelah lahir atau masa kecil, pada saat usia sekolah atau remaja, pada usia dewasa, dan usia lanjut.

Dengan demikian para tunanetra praktis kehilangan kemampuan mereka untuk dapat melihat. Daya pengelihatan adalah faktor terpenting bagi seseorang untuk dapat menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Indera pengelihatan juga adalah bagian terpenting dalam proses belajar dari anak-anak hingga dewasa. Kehilangan daya pengelihatan juga sama halnya dengan kehilangan salah satu bagian terpenting dari kehidupan manusia.

Seseorang yang tiba-tiba kehilangan daya pengelihatannya pada umumnya akan mengalami tekanan psikis yang berat. Ia akan mengalami perubahan total di dalam kehidupannya sehari-hari. Kehidupan yang tadinya berjalan normal kini menjadi gelap gulita dan ia tidak dapat melihat lagi apa yang ada di sekitarnya. Ia juga tidak dapat bergerak bebas seperti saat sebelum menjadi tunanetra. Jika tidak berhati-hati ia akan menabarak benda-benda di sekitarnya, atau bisa juga jatuh dari tangga atau ke dalam selokan.

” Adi Gunawan Institut menyediakan kesempatan belajar dan berkarya bagi difabel netra atau tunanetra. Untuk informasi mengenai kurikulum dan metode belajar Adi Gunawan Institut dapat ditelusuri pada bagian lain Web ini. “

Sama halnya dengan seseorang yang mengalami ketunanetraan sejak lahir. Ia tidak pernah melihat hal-hal di sekitarnya secara visual. Tunanetra sejak lahir mengetahui sekelilingnya dengan menggunakan indera-indera yang lainnya yaitu pendengaran, perabaan, dan perasaan. Tunanetra sejak lahir juga akan mengalami tekanan psikis saat ia mengetahui bahwa terdapat perbedaan antara dirinya dengan orang lain di sekitarnya. Ia akan merasa bahwa dirinya tak sempurna seperti orang lain yang dapat menggunakan indera pengelihatan dan dapat melihat segala sesuatu.

Keluarga yang memiliki kerabat tunanetra atau orang tua yang mengetahui bahwa anak mereka mengalami ketunanetraan juga kebanyakan mengalami tekanan psikologis. Mereka tak menyangka bahwa hal itu akan terjadi di dalam keluarga mereka. Ada yang tak terima dengan kenyataan tersebut. Ada juga yang menganggapnya sebagai aib keluarga. Namun ada juga yang berusaha mencari jalan keluar bagi kerabat dan putra-putri mereka yang mengalami ketunanetraan untuk mendapatkan taraf kehidupan yang layak dan mandiri seperti orang-orang pada umumnya.

Melihat realita di atas bahwa ketunanetraan dapat dialami siapa saja dan kapan saja, perlu adanya sikap dan semangat yang positif untuk dapat mencari jalan keluar ataupun cara-cara untuk dapat mengatasi keterbatasan dan hambatan terkait dengan ketunanetraan. Para orang tua atau orang-orang yang memiliki kerabat tunanetra hendaknya tetap mendukung dan mendorong mereka untuk tetap bersemangat dan berusaha menjalani hidup walaupun mengalami perbedaan dan perubahan kondisi visual mereka.

Saat ini tengah dikembangkan berbagai metode dan alat bantu untuk memudahkan para tunanetra untuk dapat menjalani kehidupan mereka sehari-hari secara mandiri. Seperti ilmu orientasi dan mobilitas, para tunanetra  akan dilatih untuk melakukan segala hal tanpa menggunakan indera pengelihatan mereka. Indera pendengaran, penciuman, perabaan, dan indera perasa akan diasah sebagai ganti indera pengelihatan.

Mereka juga akan dibekali dengan sebuah tongkat putih yang fleksibel yang dapat mereka gunakan untuk berjalan sendiri di dalam maupun di luar ruangan dengan aman dan teratur. Tongkat putih juga akan membantu orang-orang di sekitar mereka untuk mengetahui posisi mereka sebagai seorang tunanetra dan dapat memberi kesempatan mereka untuk berjalan atau sekedar membantu mengarahkan.

Terdapat juga tulisan Braille yang dapat dipergunakan tunanetra untuk tulis-menulis secara mandiri. Selain itu terdapat juga komputer bicara dan ponsel pintar berbicara yang telah diprogram khusus dengan program pembaca layar, yang juga dapat digunakan oleh tunanetra secara mandiri.

Dengan demikian para tunanetra juga dapat memiliki kesempatan yang sama seperti orang-orang pada umumnya. Mereka dapat belajar, bersekolah, dan bekerja di tengah-tengah masyarakat secara mandiri. Mereka juga memiliki hak dan kewajiban yang sama yaitu memperoleh taraf kehidupan yang layak dan berkualitas. Dukungan, dorongan, dan kesempatan perlu diberikan kepada mereka, sehingga para tunanetra menjadi bagian dari masyarakat yang inklusif dan dapat memberi kontribusi positif bagi sekitarnya.

Penulis : Adi Gunawan

jadilah salah satu dari donatur kegiatan kami

Copyright © 2018, Adi Gunawan Institute | Powered by PT Valid Data Solusi