Berdamai Dengan Low Vision

Berdamai Dengan Low Vision

adigunawaninstitute.com - 16 Mar 2022

Hai… Perkenalkan saya Mellisa Chian. Saya lahir di Jakarta, 9 Januari 1986. Semasa kecil sampai SMA kelas 1, saya mempunyai penglihatan yang bagus dan bisa melakukan aktivitas secara mandiri.

Namun semuanya mulai berubah pada saat saya berusia 16 tahun, ada satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Pada saat itu, saya belum mengetahui kondisi mata saya. Kejadiannya waktu saya sedang mencari tempat duduk di bioskop, tanpa sengaja saya duduk di kursi yang salah dan kondisinya diperparah karena ternyata kursi sudah diduduki orang lain. Jadi saya duduk dipangkuan orang asing tanpa sengaja. Saya merasa malu dan sedih sampai menangis. Setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk memeriksakan mata saya ke dokter mata spesialis retina dan saya didiagnosa low vision.

Nah apa itu low vision?

Low vision adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami hambatan atau penurunan fungsi indera pengelihatan secara permanen dan tidak dapat dibantu oleh kacamata atau alat bantu optik. Salah satu faktor penyebab low vision adalah Retinitis Pigmentosa. Retinis Pigmentosa adalah penyakit genetik yang mengenai bagian retina mata yang mengakibatkan penurunan fungsi mata secara berkala. Seorang low vision mengalami kesulitan saat di ruang redup maupun terlalu terang sehingga membutuhkan alat-alat bantu khusus yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing penyandang low vision.

Sebagai seorang low vision, banyak tantangan yang pernah saya alami, seperti jatuh ke dalam selokan, menabrak barang, menabrak pintu kaca dan lain- lain. Tidak bisa dipungkiri semua kejadian tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan sering menyalahkan diri sendiri. Tetapi saya mendapat dukungan dan semangat dari keluarga, teman-teman dekat dan komunitas yang membuat saya belajar untuk berdamai dengan low vision.

Bagaimana caranya saya berdamai dengan low vision?

Pertama, ada kutipan yang mengatakan “perkataanku menciptakan duniaku”, saya mulai memperkatakan kata-kata positif untuk mata saya dan untuk semua panca indera yang Tuhan sudah berikan.

Kedua, saya mulai menggunakan alat-alat bantu yang mempermudah saya dalam melakukan aktivitas, seperti kaca pembesar untuk membaca buku dan senter untuk berjalan di tempat yang gelap.

Terakhir, saya minta bantuan dengan cara mengikuti webinar tentang “serba-serbi low vision” dengan pembicara Pak Adi Gunawan, yang akhirnya membuat saya di awal November 2021 mengikuti pelatihan di Adi Gunawan Institute secara online.

Di dalam pelatihan online tersebut saya berlatih penggunaan sensori panca indera secara maksimal, penggunaan tongkat pemandu, dan aplikasi yang menghubungkan low vision dengan relawan orang awas. Saya senang karena panca indera pendengaran dan peraba mulai terasah, contohnya saya bisa mengambil barang yang jatuh lebih cepat. Pak Adi Gunawan, yang juga menjadi mentor saya mengajarkan jika tongkat pemandu tidak hanya sebagai alat bantu berjalan saja, tapi juga sebagai perpanjangan tangan dan juga memperkuat fungsi indera perabaan. Oleh karena itu, saya mulai memberanikan diri menggunakan tongkat di tempat umum, seperti pasar dan toko bahan kue.

Menutup tulisan ini, saya berharap ke depan agar saya dapat hidup lebih mandiri, terus mengembangkan potensi yang saya miliki, dan selanjutnya hidup saya bisa berdampak positif untuk orang lain yang ada di sekitar saya.

Mellisa Chian tengah membaca menggunakan alat bantu pembesaran 2

Penulis: Mellisa Chian

Salah satu klien low vision Adi Gunawan Institute di kelas kursus dan pendampingan.

Editor: Team Redaksi Adi Gunawan Institute

Artikel INI DIPRODUKSI dari program Literasi Tunanetra AGI, hasil kerjasama Adi Gunawan Institute dengan Hand International Foundation.

Leave a Reply

Copyright © 2018, Adi Gunawan Institute | Powered by PT Valid Data Solusi